1. Dalam ilmu ekonomi,
inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan
terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat,
berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi,
sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan
kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara
kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya
tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu
menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan,
dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus
dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk
mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai
penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi,
dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi
empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi
ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun;
inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun, dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali
terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Contoh kasus Inflasi
yang terjadi di indonesia:
Badan Pusat Statistik (BPS)
menegaskan laju inflasi Juli 2013 yang mencapai 3,29% merupakan angka tertinggi
sejak periode yang sama tahun 1999. "Realisasi laju inflasi 3,29% pada
Juli ini adalah yang tertinggi sejak 1999 month on month (MoM) setelah krisis
moneter, " ujar Kepala BPS, Suryamin dalam keterangan pers di kantornya, Jakarta,
Kamis (1/8/2013). Sementara itu, laju inflasi pada Juli 2013 secara year on
year (YoY) sebesar 8,61% tercatat merpakan yang tertinggi sejak 2009.
Suryamin menjelaskan, laju inflasi bulan lalu dikontribusi
oleh bahan bakar minyak (BBM) dan tarif angkutan umum. Sumbangan dari komodiats
BBM tanya hanya berasal dari BBM subsidi melainkan juga BBM non subsidi,
termasuk jenis pertamax dan pertamax plus. "BBM menyumbang inflasi
tertinggi dengan andil 0,77% dan perubahan harga terhadap Juni 25,27%. Kenaikan
harga terjadi di seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) antara 23% sampai
27,45%," ujarnya.
Data BPS menunjukan kenaikan harga
BBM berdampak terhadap tarif angkutan dalam kota yang mengalami kenaikan di 66
kota IHK seluruh Indonesia. Andil tarif angkutan terhadap inflasi tercatat
sebesar 0,54% dengan perubahan harga 21,05%. Kupang dan Serang tercatat sebagai
IHK dengan kenaikan tarif paling tajam hingga masing-masing 42% serta Sorong
sebesar 37%.
"Tarif angkutan udara juga ikut mengerek inflasi dengan
andil 0,08% dan perubahan harga 10,23%. Disebabkan karena permintaan jasa
angkutan udara yang meningkat karena liburan sekolah. Dari 29 kota IHK yang
mengalami kenaikan, Sorong dan Semarang menyumbang inflasi terbesar
masing-masing 28% dan 24%," ujar dia. Disusul, tarif angkutan antar kota
yang berkontribusi terhadap laju inflasi Juni ini sebesar 0,07%. Perubahan
harga di 63 kota IHK mencapai 12,15% dengan kenaikan inflasi tertinggi di Ambon
33%, manokwari 23%. Sedangkan 3 kota IHK lain, Tarakan, Batam dan Ternate tidak
mempunyai angkutan umum.
"Pengaruh langsung kenaikan harga BBM sudah berakhir di
Juli ini. Tapi kalau untuk dampak yang tidak langsung perlu waktu 1-2 bulan,
dan setelah itu akan kembali normal," pungkas dia.
2. Menurut saya, inflasi
itu tidak selau merugikan karena mempunyai dampak yang positif dan negatif
terhadap perekonomian suatu negara khususnya negara Indonesia, dampak positif
dan negatf itu diantaranya:
vDampak Positif
Jika inflasi itu ringan, justru
dapat berdampak positif bagi kegiatan ekonomi masyarakat. Dampak positif
inflasi yang rendah dapat meningkatkan pendapatan nasional dan membuat minat
orang untuk menabung lebih tinggi.Para penerima pendapatan tetap seperti
pegawai negeri, karyawan perusahaan swasta, serta buruh semakin bergairah dalam
bekerja dan melakukan investasi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Inflasi yang stabil membuat perencaan keuangan masyarakat lebih baik, daya beli
menjangkau, kebutuhan hidup terpenuhi, investasi lancar karena penanaman modal
tidak bersifat spekulatif, kredit tidak macet. Jika dampak positif inflasi
sering terjadi, dalam jangka panjang akan menyebabkan pendapatan riil
masyarakat tetap stabil, standar hidup lebih baik; lebih sejahtera. Bagi dunia
usaha perdagangan, laporan keuangan perusahaan bernilai positif. Sementara,
neraca keuangan negara tetap stabil.
v
Dampak Negatif
Sebaliknya, jika dampak dari
inflasi itu parah dimana pada saat itu
terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), dapat menurunkan perekonomian
masyarakat yang secara luas menjadi penyebab lesunya pertumbuhan ekonomi
negara. Ditambah dengan kenaikan BBM, menjadikan harga-harga barang meningkat,
daya beli masyarakat menurun, uang pensiun tidak cukup lagi, dunia usaha lesu
karena bahan baku dan biaya produksi melonjak naik, banyak PHK, pengangguran
dimana-mana, dan semua orang terutama orang miskin bertambah miskin.
Inflasi yang tidak stabil akan
menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan.
Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan
keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang
pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi domestik
yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga, menjadikan
tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan
tekanan pada nilai rupiah.
3. Beberapa factor yang dapat
menyebabkan terjadinya inflasi dalam perekonomian suatu Negara dapat
dikelompokan sebagai berikut:
1. Demand Pull Inflation, atau Demand-Side Inflation, atau
Demand Shock Inflation
Demand Shock Inflation atau biasa
disebut Inflasi Guncangan Permintaan atau inflasi tarikan permintaan adalah
inflasi yang disebabkan oleh adanya daya tarik dari permintaan masyarakat terhadap
berbagai barang yang terlalu kuat. Inflasi jenis ini biasa dikenal juga dengan
istilah Philips Curve Inflation. Inflasi ini dipicu oleh adanya interaksi
antara permintaan dan penawaran terhadap barang dan jasa domestic dalam jangka
panjang yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat.Inflasi ini biasa terjadi pada
masa perekonomian yang tumbuh dengan cepat. Adanya kesempatan kerja yang tinggi
menimbulkan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menyebabkan
pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa.
Pengeluaran yang berlebihan ini pada akhirnya dapat menimbulkan inflasi.
Untuk di Negara Indonesia
terjadinya demand pull inflation disebabkan oleh tingginya permintaan barang
dan jasa relative terhadap ketersediannya. Artinya barang dan jasa yang diminta
relative tinggi dibanding ketersediaan barang dan jasa yang diminta. Dalam
makro ekonomi inflasi ini digambarkan dengan output rill yang melebihi output
potensial, atau permintaan total, atau aggregate demand lebih besar daripada
kapasitas perekonomian.
2. Cost Push Inflation, atau Supply-Side Inflation, atau
Supply Shock Inflation
Supply Shock Inflation atau biasa
disebut inflasi guncangan penawaran atau inflasi desakan biaya adalah inflasi
yang disebabkan oleh adanya guncangan atau dorongan kenaikan biaya
factor-faktor produksi secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Inflasi
ini terjadi akibat didesak oleh naiknya biaya dari factor produksi.Inflasi
desakan biaya biasa terjadi pada masa perekonomian yang sedang tumbuh pesat
dengan pengangguaran yang relative rendah. Di sini supply tenaga kerja sangat
terbatas. Adanya permintaan yang tinggi pada barang produksi terhadap
perusahaan, sementara jumlah tenaga kerja terbatas. Perusahaan akan menaikkan
produksi dengan memberi upah atau gaji lebih tinggi dan mencari karyawan baru
dengan tawaran upah atau gaji yang relative tinggi.
Kebijakan ini menimbulkan biaya
produksi menjadi tinggi, sehingga harga barang atau produk menjadi lebih tinggi
juga.Kenaikan biaya dari factor produksi dapat diakibatkan oleh depresiasi atau
turunnya nilai tukar mata uang domestic terhadap mata uang asing. Bahan baku
dan barang dari luar negeri menjadi lebih malah di dalam negeri. Terjadinya
inflasi di luar negeri, khususnya Negara-negara patner dagang. Inflasi luar
negeri naik menyebabkan bahan baku atau barang atau produk dari luar negeri
menjadi naik.Inflasi guncangan penawaran dapat pula terjadi akibat negative
supply shock. Penurunan penawaran ini dapat disebabkan oleh bencana alam, atau
hal lain. Selain itu inflasi supply shock dapat terjadi kerena pemerintah
menaikkan harga-harga komoditi tertentu.
3. Mixed Inflation, Inflasi Campuran
Inflasi campuran merupakan inflasi
yang disebabkan oleh kenaikan permintaan dan kenaikan penawaran. Perilaku
permintaan dan penawaran tidak setimbang. Permintaan terhadap barang atau jasa
bertambah, hal ini mengakibatkan factor produksi dan penyediaan barang menjadi
turun. Sementara substitusi atau barang pengganti terbatas atau bahkan tidak
ada. Keadaan ini, pada akhirnya menyebabkan harga menjadi naik. Inflasi ini
menjadi semakin sulit dikendalikan atau diatasi, ketika kenaikan supply lebih
tinggi atau setidaknya sama dengan kenaikan demand.
4. Expected Inflation, Inflasi Ekspektasi.
Inflasi ekspektasi adalah inflasi
yang terjadi akibat adanya perilaku masyarakat secara umum yang bersifat adatif
atau forward looking. Dalam hal ini, masyarakat menilai bahwa di masa yang akan
datang kondisi ekonomi menjadi semakin baik dari masa sebelumnya.Harapan
masyarakat ini dapat menyebabkan terjadinya demand pull inflation maupun cost
push inflation. Hal ini tergantung pada harapan masyarakat yang mana yang akan
lebih baik dan bagaimana kondisi persediaan barang dan factor produksi saat itu
dan masa datang. Inflasi jenis ini relative sulit untuk dideteksi secara pasti,
sehingga kejadiannya kurang diperhatikan.
5. Perbedaan tingkat suku bunga antara 2 negara
Suku bunga, inflasi dan nilai tukar
sangat berhubungan erat. Dengan merubah tingkat suku bunga, bank sentral suatu
negara bisa mempengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uang. Suku bunga yang
lebih tinggi akan menyebabkan permintaan mata uang negara tersebut meningkat.
Investor domestik dan luar negeri akan tertarik dengan return yang lebih besar.
Namun jika inflasi kembali tinggi, investor akan keluar hingga bank sentral
menaikkan suku bunganya lagi. Sebaliknya, jika bank sentral menurunkan suku
bunga maka akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.
Sumber Referensi:
http://ardra.biz/ekonomi/ekonomi-makro/faktor-penyebab-terjadinya-inflasi/
http://bisnis.liputan6.com/read/655507/inflasi-juli-2013-terparah-sejak-indonesia-dilanda-krisis-moneter
http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
http://www.seputarforex.com
Adakah anda telah mencari bantuan kewangan segera? Anda memerlukan pinjaman segera untuk membayar hutang dan bil yang sedia ada? Sedang mencari perniagaan dari rumah dan pinjaman peribadi, sila hubungi kami sekarang dengan maklumat di bawah.
BalasHapusNama anda:
status:
kerja:
Jantina:
Nombor Telefon:
Jumlah pinjaman:
jangka masa:
Tujuan pinjaman?
Nota: Semua jawapan hendaklah hadapan Hubungi kami sekarang di: anitacharlesloancompany@gmail.com atau anitacharlesloancompany@mail.com Terima kasih kerana datang.