Minggu, 22 November 2015

Pola Manajemen Koperasi


               Koperasi seperti halnya organisasi yang lain membutuhkan pola manajemen
yang baik agar tujuan koperasi tercapai dengan efisien.
Hal   yang   membedakan   manajemen   koperasi   dengan   manajemen   umum
adalah   terletak   pada   unsur-unsur   manajemen   koperasi   yaitu   rapat   anggota,
pengurus, dan pengawas. Adapun tugas masing-masing dapat diperinci sebagai
berikut :
Ø  Rapat anggota bertugas untuk menetapkan anggaran dasar, membuat kebijaksanaan umum, 
    mengangkat/memberhentikan   pengurus   dan   pengawas.
Ø  Pengurus koperasi bertugas memimpin koperasi dan usaha koperasi sedangkan
Ø  Pengawas tugasnya mengawasi jalannya koperasi.
Untuk   koperasi   yang   unit   usahanya   banyak   dan   luas,   pengurus
dimungkinkan mengangkat manajer dan karyawan. Manajer atau karyawan tidak
harus   anggota   koperasi   dan   seyogyanya   memang   diambil   dari   luar   koperasi
supaya   pengawasannya   lebih   mudah.   Mereka   bekerja   karena   ditugasi   oleh
pengurus, maka mereka juga bertanggung jawab kepada pengurus.   Di bawah
ini akan dibahas mengenai beberapa pola manajemen koperasi yang nantinya
akan membantu koperasi tersebut dalam mencapai tujuannya :
a.      Perencanaan 
                   Perencanaan merupakan proses dasar manajemen. Dalam perencanaan manajer memutuskan   apa   yang   harus   dilakukan,   kapan   harus   dilakukan,bagaimana  melakukan  dan  siapa  yang   harus   melakukan.  etiap   organisasi memerlukan perencanaan. Baik organisasi yang bersifat kecil maupun besarsama   saja   membutuhkan   perencanaan.   Hanya   dalam   pelaksanaannyadiperlukan   penyesuaian-penyesuaian   mengingat   bentuk,   tujuan   dan   luas organisasi yang bersangkutan.
                   Perencanaan   yang   baik   adalah   perencanaan   yang   fleksibel,   sebab
      perencanaan akan berbeda dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah di waktu   yang   akan   datang.   Apabila   perlu   dalam   pelaksanaannya   diadakanperencanaan   kembali   sehingga   semakin   cepat   cita-cita/tujuan   organisasiuntuk dicapai.
 Perencanaan dalam Koperasi :
Organisasi  koperasi  sama   dengan   organisasi   yang   lain,  perlu   dikelola
dengan   baik   agar   dapat  mencapai   tujuan   akhir   seefektif   mungkin.   Fungsi
perencanaan   merupakan   fungsi   manajemen   yang   sangat   penting   karena
merupakan   dasar   bagi   fungsi   manajemen   yang   lain.   Agar   tujuan   akhir
koperasi dapat dicapai maka koperasi harus membuat rencana yang baik,
dengan   melalui   beberapa   langkah   dasar   pembuatan   rencana   yaitu
menentukan   tujuan   organisasi   mengajukan   beberapa   alternatif   cara
mencapai   tujuan   tersebut   dan   kemudian   alternatif-alternatif   tersebut   harus
dikaji satu per satu baik buruknya sebelum diputuskan alternatif mana yang
dipilih. Tipe   rencana   yang   dapat   diambil   dalam   koperasi   dapat   bermacam-
macam   tergantung   pada   jangka   waktu   dan   jenjang   atau   tingkatan
manajemen.
b.      Pengorganisasian dan Struktur Organisasi 
                    Pengorganisasian   merupakan   suatu   proses   untuk   merancang   struktur formal,   mengelompokkan   dan   mengatur   serta   membagi   tugas-tugas   ataupekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapatdicapai   secara   efisien.   Pelaksanaan   proses   pengorganisasian   akan mencerminkan struktur organisasi yang mencakup beberapa aspek penting seperti:
1.      Pembagian kerja,
2.      Departementasi,
3.      Bagan organisasi,
4.      Rantai perintah dan kesatuan perintah,
5.      Tingkat hierarki manajemen, dan
6.      Saluran komunikasi dan sebagainya.
Struktur Organisasi dalam Koperasi :
Sebagai   pengelola   koperasi,   pengurus   menghadapi   berbagai   macam
masalah yang harus diselesaikan. Masalah yang paling sulit adalah masalah
yang   timbul   dari   dalam   dirinya   sendiri,   yaitu   berupa   keterbatasan.
Keterbatasan dalam  hal pengetahuan paling sering terjadi, sebab seorang
pengurus harus diangkat oleh, dan dari anggota, sehingga belum tentu dia
merupakan   orang   yang   profesional   di   bidang   perusahaan.   Dengan
kemampuannya yang terbatas, serta tingkat pendidikan yang terbatas pula,
pengurus perlu mengangkat karyawan yang bertugas membantunya dalam
mengelola koperasi agar pekerjaan koperasi dapat diselesaikan dengan baik.
Dengan   masuknya   berbagai   pihak   yang   ikut   membantu   pengurus
mengelola   usaha   koperasi,   semakin   kompleks   pula   struktur   organisasi
koperasi   tersebut.   Pemilihan   bentuk   struktur   organisasi   koperasi   harus
disesuaikan dengan macam usaha, volume usaha, maupun luas pasar dari
produk   yang   dihasilkan.   Pada   prinsipnya  semua   bentuk   organisasi   baik,
walaupun masing-masing mempunyai kelemahan.
c.       Pengarahan 
                  Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting. Sebabmasing-masing orang  yang   bekerja di dalam suatu organisasi mempunyai kepentingan yang  berbeda-beda. Supaya kepentingan  yang berbeda-beda tersebut tidak saling bertabrakan satu sama lain, maka pimpinan perusahaanharus dapat mengarahkannya untuk mencapai tujuan perusahaan.
                  Seorang karyawan dapat mempunyai  prestasi kerja yang  baik, apabila mempunyai  motivasi.   Maka dari itu, tugas pimpinan perusahaan adalahmemotivasi karyawannya  agar mereka menggunakan seluruh potensi yang ada   dalam   dirinya   untuk   mencapai   hasil   yang   sebaik-baiknya.   Supayamanajer atau pimpinan perusahan dapat memberikan pengarahan yang baik,pertama-tama ia harus mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaandan harus pandai mengadakan komunikasi secara vertikal.
Manajemen Kepegawaian :
Seorang manajer kepegawaian adalah pembantu pengurus yang diserahi
tugas mengurus administrasi kepegawaian, yang mencakup:
Ø  Mendapatkan pegawai yang mau bekerja dalam koperasi,
Ø  Meningkatkan kemampuan kerja pegawai,
Ø  Menciptakan   suasana   dan   hubungan   kerja   yang   baik   sehingga   para
Ø  karyawan   tersebut   tidak   bosan   bekerja   bahkan   dapat   meningkatkan
Ø  prestasinya,
Ø  Melaksanakan   kebijaksanaan   yang   dibuat   pengurus,   mengawasi
Ø  pelaksanaannya dan menyampaikan  informasi maupun laporan kepada
Ø  pengurus secara teratur,
Ø  Memberikan saran-saran/usul-usul perbaikan.

d.      Pengawasan 
                  Pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk membuat semua kegiatan   perusahaan  sesuai   dengan   rencana.   Proses   pengawasan   dapatdilakukan   dengan   melalui   beberapa   tahap,   yaitu   menetapkan   standar, membandingkan   kegiatan   yang   dilaksanakan   dengan   standar   yang   sudahditetapkan, mengukur penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, kemudianmengambil   tindakan   koreksi   apabila   diperlukan.   Setiap   perusahaanmengadakan pengawasan dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan sesuaidengan rencana yang sudah ditetapkan.
                 Ada   beberapa   alasan   yang   dapat   diberikan   mengapa   hampir   setiap perusahaan  menghendaki   adanya   proses pengawasan   yang  baik.  Alasan-alasan tersebut antara lain:
Ø  Manajer dapat lebih cepat mengantisipasi perubahan lingkungan,
Ø  Perusahaan yang besar akan lebih mudah dikendalikan,
Ø  Kesalahan-kesalahan   yang   dilakukan   oleh   anggota   organisasi   dapat dikurangi.
Berdasarkan   waktu   melakukan   pengawasan,   dikenal   ada   tiga   tipe
pengawasan   yaitu: feedforward   controll,   concurrent   controll,   dan   feedback
control.
Teknik dan Metode Pengawasan :
Secara garis besar pengawasan dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode
pengawasan   kualitatif   dan   metode   pengawasan   kuantitatif.   Pengawasan
kualitatif   dilakukan   oleh   manajer   untuk   menjaga   performance   organisasi
secara keseluruhan, sikap serta performance karyawan. Metode pengawasan
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan data, biasanya digunakan untuk
mengawasi kuantitas maupun kualitas produk. Ada beberapa cara yang biasa
digunakan untuk  mengadakan pengawasan kuantitatif,  antara lain:  dengan
menggunakan anggaran, mengadakan auditing, analisis break even, analisis
rasio dan sebagainya.
Kita   dapat   melihatnya   dalam   program   keterkaitan   yang   dicanangkan
sebagai   Gerakan   Nasional   muncul   4   (empat)   macam   pola   hubungan
kemitraan, yaitu:
1.      Pola Dagang.
Keterkaitan merupakan hubungan dagang biasa antara produsen/koperasi
dan pemasar/pengusaha.
2.      Pola Vendor.
Kerjasama dilakukan untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahan
yang menjadi bapak angkat.
3.      Pola Subkontrak.
Kerjasama   dilakukan   dalam   hubungan   produk   yang   dihasilkan   oleh
koperasi menjadi bagian dalam sistem produksi bapak angkat.
4.      Pola Pembinaan.
Pola ini dikembangkan untuk memberi kesempatan kepada koperasi yang
memiliki potensi produksi tetapi lemah dalam pemasaran.

Ke-empat   pola   tersebut   memperlihatkan   bahwa   koperasi   ditempatkan
sebagai   sub   sistem   dari   perusahaan   swasta/BUMN.   Padahal   koperasi
mempunyai kemampuan untuk ditempatkan sebagai related system. Dengan
demikian   fokus   perhatian   umumnya   terarah   kepada   koperasi   primer,
sedangkan   pengembangan   koperasi   sekunder   dan   tersier   tidak   berjalan
sebagaimana   mestinya.   Dengan   hanya   menjadi   subsistem   maka   koperasi
berada pada posisi bargaining yang lemah.
Memasuki   millennium   ketiga   ini   sudah   seharusnya   dilakukan   upaya-
upaya   yang   lebih   teratur   dan   konsisten   untuk   membuat   koperasi   mampu
berusaha   di   bidang   ekpor-impor.   Koperasi   harus   didorong   untuk   tumbuh
dalam   satu   jaringan   kerja   (network)   dan   tidak   hanya   menjadi   sub   sistem
perusahaan swasta.
Pemerintah dapat mengalokasikan dana untuk pengembangan koperasi
dengan   membangun   unit-unit   quality   control   guna   menetapkan   standar
ekspor serta meningkatkan kualitas produk dari koperasi-koperasi produksi.
Disamping itu juga membangun unit-unit promosi (Rumah Produk Indonesia)
yang memperlihatkan bebagai sample produk dari koperasi yang mempunyai
standar ekspor.
Telah   disinggung   terdahulu   bahwa   perhatian   pembinaan   yang   hanya
terfokus   kepada   koperasi   primer   akan   memperlambat   perkembangan
koperasi   di   Indonesia.   Untuk   itu   sudah   seharusnya   focus   perhatian
pembinaan   disebarkan   meliputi   juga   koperasi   sekunder   dan   tersier   dalam
suatu sistem pembinaan terpadu.

DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/makalah-pola-manajemen-koperasi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar